Hujan
dimalam itu mempertemukan dua orang yang sedang mengadu nasib di tempat yang
jauh. Hujan tak kunjung reda, Guntur menyambar memecah keheningan. Wanita tua
dipojok itu berkata ‘ahhhhhh Nasib orang tidak ada yang tahu’. Setiap mata di
cafe itu memandang kearah wanita tersebut, pelayan cafe menghampirinya dan
menyuguhkan segelas kopi pesanannya. Didepan kaca dapat terlihat seorang pria
menerjang hujan, sambil membuka pintu cafe pria itu berkata ‘beri aku segelas
teh dingin’, sang pelayan bingung, mengapa dimalam berhujan ini ada seseorang
yang memesan es teh. Wanita tua itu bertanya ‘apa kau sudah gila anak muda?’,
‘bukankah nasib tidak ada yang tahu, bu sri’. Pria itu adalah jeki, seorang
pria lajang yang berusia 23 tahun yang baru
baru ini pindah ke kota untuk bekerja, sedangkan wanita tua itu bernama bu Sri,
seorang wanita paruh baya yang tinggal di dekat sini yang akan mencari uang
dengan cara apapun asalkan halal. ‘ini tehmu’ ucap sang pelayan cafe itu,
namanya dina, pelajar yang mencari kerja sampingan untuk membayar uang
kuliahnya, setiap hari ia bekerja di cafe ini setelah pulang kuliah, tetapi
pada hari minggu, dia menjadi pelayan seharian. Cafe ini bernama "Romantic Cafe", sesuai dengan namanya, pemilik cafe ingin suasana disini menjadi "romantic" musik jazz mengalun sendu, bunga bunga dekorasi yang memunculkan bau semerbak, serta aroma kopi yang menggugah citarasa.
Setiap
sehabis kerja, jeki selalu mampir ke cafe ini, itu karena pemilik cafe ini
mempekerjakan pelayan-pelayan yang memiliki paras yang cantik. Salah satunya
adalah dina, sejak awal jeki pindah ke kota ini, dina adalah orang yang
membuatnya tertarik.
-------
Namun
pada hari minggu, jeki menghabiskan waktunya untuk berolahraga, dia sering
berlari dari tempat tinggalnya sampai menuju ke cafe biasanya. Di cafe itu jeki
tidak pernah memesan apapun kecuali air putih, tetapi dia menghabiskan waktunya
berjam jam hanya untuk mengobrol dengan dina. Sepertinya dia sangat terobsesi
dengan dina.
‘eh
din, kalau lagi melayani pembeli tu jangan cemberut tau’
Jawab
dina dengan ngegas ‘bacot woy, orang Cuma beli air putih saja banyak maunya’
Jeki
hanya tersenyum terkagum dengan kecantikan dina.
Sebuah
suara terdengar dari samping tembok cafe ‘hati-hati din, awalnya benci bisa
jadi suka’
‘apasi
bu sri, gamungkin juga aku suka sama om om genit ini’ ucap dina menolak
pernyataan bu sri.
‘ayolah
din, kamu juga gapunya pacar kan, jadi pacarku saja, nanti biaya kuliahmu aku
bantu’ ucap jeki dengan entengnya.
Seorang
pria tua kemudian datang menghampiri dina, ‘nih gajimu selama seminggu’, di
adalah pemilik cafe ini, namanya adalah pak budi.
‘lain
kali kalau kerja jangan sampai salah alamat din’ ucap pak budi sambil berjalan
pergi menjauh.
‘salah
alamat gimana din?, jangan bilang kamu serign nyasar ya hahaha’ jeki puas
ketawa.
Dina
tak menghiraukannya dan bergegas pergi melayani pelanggan yang datang.
-------
Namun
malam itu terasa berbeda, jeki mampir sepulang kerja, namun yang menyambutnya
di cafe itu adalah pelayan lain. Jeki bertanya kepada pelayan itu ‘kemana dina,
apakah dia libur?’. ‘dia sedang bekerja’ jawab pelayan itu. Jeki sangat bingung
bukankah pekerjaan dina adalah pelayan?. Pertanyaan-pertanyaan memenuhi kepala
jeki sampai akhirnya dia yang ditunggu telah datang, lewat pintu depan ia
perlahan membuka pintu cafe secara perlahan.
‘ahh
akhirnya selesai juga’
‘kamu
habis darimana din?’ tanya jeki.
Dina
pun terkejut karena dia tidak pernah berharap akan bertemu jeki pada malam itu
‘ee ituu anuu, aku habis mengantar ke tempat pembeli’.
‘ohhh
cafe ini ada jasa antar makanan gitu ya, gimana caranya biar bisa diantar gitu’
tanya jeki dengan antusias.
‘tidak,
pelayanan ini hanya untuk orang khusus, kamu gabisa’.
Dengan
perasaan kecewa, akhirnya jeki menerimanya.
-------
Dua
hari berikutnya, jeki kembali ke cafe ini, jeki sangat senang karena dia
disambut oleh dina. Senyum menjengkelkan jeki membuat dina ingin memukul
kepalanya. Setelah beberapa lama, sekitar jam 9 malam, pak budi datang ke cafe.
‘dina, waktunya bekerja’, lalu dina pergi meninggalkan cafe dan naik ke mobil
pak budi. Sekali lagi, jeki terkejut karena berpikir pekerjaan dina adalah
pelayan di cafe ini.
Bu
sri mengatakan ‘lebih baik kau tidak usah memikirkan hal ini’,
‘diam
kau nenek tua’ ujar jeki dengan perasaan marah.
-------
Beberapa
hari kemudian jeki kembali mampir ke cafe, saat itu dina kembali pergi
meninggalkan cafe, tetapi dia tidak pergi dengan pak budi. Dina pergi
menggunakan mobil Honda CRV merah yang jeki seperti tak asing saat melihatnya.
-------
Keesokan
harinya, saat matahari masih memperlihatkan sedikit sinarnya, jeki sampai di
kantor tempatnya bekerja, ia sangat terkejut saat melihat dina berjalan keluar
dari kantornya. Dugaan jeki benar, mobil yang dinaiki dina kemarin adalah mobil
milik manajer di kantor jeki. Saat siang, jeki ingin menyerahkan dokumen
dokumen penting ke manajernya, saat itu jeki memberanikan diri untuk bertanya
‘bos, siapa wanita yang kemarin kamu ajak ke kantor?’ , ‘bagaimana kau
mengetahuinya?’ ujar si bos.
‘gini
saja jek, aku kenalkan kamu dengannya, tapi jangan bilang ke istriku ya’.
‘memang
dia siapa bos?’ tanya jeki.
‘dia
adalah pelacur langgananku, dia masih muda dan cantik, dia jadi langgananku
karena dia bersedia dibayar murah untuk membayar uang kuliahnya, hahaha kau
akan menyukainya’ ucap si bos.
Jeki
pergi tanpa mengucap sepatah kata pun.
-------
Sampai
akhirnya malam pun tiba, tiba saatya jeki pulang dari kantornya dan mampir ke
cafe favoritnya
‘apakah
dina ada’ jeki berteriak dengan keras sampai suaranya dapat didengar sampai ke
dapur.
‘aku
disini’ ucap dina. ‘ada apa’.
Dengan
nada pelan jeki bertanya dengan berbisik ‘din, apakah benar kamu seorang
pelacur?’.
Dina
sangat terkejut dengan pertanyaan jeki ‘kau tau darimana?’
‘tadi
pagi aku meihatmu keluar dari kantor tenpatku bekerja, kamu habis melayani pak
manajer kan’
Dina
hanya bisa diam seribu bahasa.
‘din,
kamu bisa berhenti melakukan itu, tinggallah denganku, akan kutanggung biaya
kuliahmu. Tapi kamu harus berhenti melakukan itu ya?’
‘tidak,
aku menikmati pekerjaan ini, dengan pekerjaan ini aku dapat menghasilkan uang
dengan mudah’ jawab dina dengan tegas.
‘sudah
kubilang, kau tidak usah terlalu mekikirkan ini jeki’ ucap bu sri dari pinggir
jendela.
Jeki
hanya bisa terdiam mendengar pernyataan dari dina. setelah diam beberapa menit,
akhirnya jeki buka suara.
‘din,
malam ini kosong?’
‘kosong,
memang kenapa’ jawab dina.
‘kalau
begitu layani aku malam ini, aku akan mebayarmu berapapun itu’
‘baiklah,
tentukan waktu dan lokasi’
‘pukul
12 malam, di tempat tinggalku’
‘okee
tunggu nanti malam’
-------
Malam
yang dinanti pun tiba, dina mengetuk pintu kamar jeki.
‘masuk
saja, ngga dikunci’
Lalu
dina masuk ke kamar jeki. Dina sudah sangat siap untuk melayani jeki. setelah
mereka berdua telanjang, mereka melakukan hubungan badan diatas kasur tempat
tidur jeki.
Setelah
terpuaskan, jeki membayar dina dan bersiap mempulangkannya. Saat jeki sedang
memakai baju, jeki melihat sebuah pisau yang digunakannya untuk memasak sehari
hari. Saat dina berbalik
*jlebb.
Sebuah pisau dapur menusuk perut dina.
‘jika
aku tidak bisa memilikimu, maka orang lainpun tidak bisa’
Komentar
Posting Komentar