7 HARI MENUJU FAJAR… ATAU SENJA?

 


Namaku Parmin, Orang desa yang berjuang mengubah nasibnya di kota. Dengan kerja keras tanpa henti, aku berhasil mengumpulkan uang. Bukan hanya uang, jabatan pun aku miliki. Namun di sela - sela kesuksesanku, Mak Rini, keluargaku satu - satunya, meninggal dunia. Bapakku meninggalkan emak saat umurku lima tahun. Sebenarnya aku punya seorang kakak bernama Tejo, tetapi dia kabur dengan membawa surat tanah si emak. Yahh nasib kalau begitu. Dengan sangat terpaksa, si emak ku tempatkan di panti jompo, karena tidak mungkin aku membawanya ke kota nan jauh bukan.


Mungkin karena aku sudah tidak memiliki siapa - siapa lagi, aku bingung harus ku apakan uangku. Terlintas sebuah angan - angan di kepala. Bagaimana jika aku menjadi sosok orang tua, apakah anakku akan merawatku seperti aku merawat mak Rini?, ataukah akan meninggalkanku seperti Tejo?. 


Sepertinya aku menemukan tujuan baru. Aku akan membuat keluarga yang harmonis dengan anggota yang lengkap. Ya… itu tujuanku sekarang. Hari ini adalah awal yang akan memulai kehidupan baruku.


***


Ternyata tidak susah untuk mencari pasangan di kota besar. tunjukkan gajimu, lalu orang - orang akan datang dengan sendirinya. Sebuah sistem yang tidak berlaku di desa asalku. 


Dari beberapa banyaknya wanita yang mendekatiku, aku memilih satu, Amanda. Sekarang dia sudah menjadi pacarku. Kami mulai berkomitmen untuk bersama sama melanjutkan hidup. 


HARI PERTAMA 


Ada beberapa hal yang tidak kusuka darinya. Lebih tepatnya aku kurang cocok. Yang pertama adalah caranya berpakaian. Ya aku tau fashion terkini memang seperti ini, tetapi aku hanya menyuruhnya agar memakai pakaian yang tertutup. Aneh rasanya, di desa semua wanita memakai jilbab, bahkan ada yang memakai gamis dan mengenakan cadar bagi yang muslim. Bahkan yang non muslim saja pakaiannya masih menutupi sebagian dari tubuhnya. Sungguh dia terlihat seperti wanita liar. 


Mana ada seorang wanita yang tidak malu belahan dadanya kelihatan. Pikirku. Ternyata semua itu terbantahkan. Di kota, tidak ada rasa malu sepertinya. Para wanita bergerak kesana kemari dengan bangganya menonjolkan buah dadanya agar menarik perhatian lawan jenis. 


Mana ada wanita yang mau kelihatan pahanya. Lagi - lagi pikiran naif ku terbantahkan. Ya, memang naif sekali. Bahkan kegiatan seperti ngantor pun mereka memakai rok mini diatas lutut hingga celana dalamnya nyaris terlihat.


Namun setiap aku menceramahinya, aku selalu dilempari jawaban yang sama “Apasih, ini emang style aku. kamu yang dari desa mana paham style seperti ini”.


HARI KEDUA


Aku mengajak Amanda pergi ke sebuah mall di pusat kota. Aku berekspektasi tinggi kami bakal pergi ke tempat - tempat yang seru dan mengasyikkan. Namun Amanda selalu mengajak ke tempat - tempat mahal. Ia selalu meng kode agar aku membelikan dia barang - barang yang mahal dan menurutku tidak terlalu berguna itu.

Yang beliin ini dong, yang belikan itu dong. Kata - kata yang keluar dari mulutnya hanyalah itu. Yah namanya juga pacar, aku turuti kemauannya beli kaos Gucci yang hanya menang merk doang itu. Aku turuti beli potongan wortel dan kubis yang ditambah dengan saus mayo dengan harga delapan puluh ribu itu.


Barang - barang itu dipamerkan ke teman se circle, susah amat, padahal tinggal bilang teman satu tongkrongan. Katanya dia malu melihat teman - temannya pakai barang branded semua, sedangkan dia hanya memakai barang apa adanya. 


HARI KETIGA


Hari ini sedikit berbeda, karena amanda sedang demam. Sebagai pacar yang pengertian dan menyayanginya, aku berupaya untuk menjenguknya. Namun kalimat pertama yang diketik kepadaku saat tahu rencanaku adalah, “Jangan, papaku ada dirumah, dia orangnya galak”. Ya bagus dong, sekalian bisa perkenalan. Namun ia tetap menolaknya.


Untuk memastikan keadaannya, aku meminta Amanda agar mengirimiku foto selfie. Sebuah wajah yang cantik muncul di Handphone ku. Tetapi sepertinya kamar Amanda tidak begini. Aku tau karena aku pernah ia beri fotonya saat di kamar. 

“Amanda, kamu di mana itu?, kok kamarnya beda”.

“Eh iya… itu aku lagi di kamar mama. kamar aku lagi direnovasi, makanya sementara aku disini”.

“Cepat sembuh ya Amanda”.

Amanda menutup telepon tanpa mengucapkan apapun. Tetapi sesaat sebelum telepon tertutup, aku mendengar suara yang sepertinya suara seorang pria. Entahlah, mungkin papanya.



HARI KEEMPAT


Sepulang kerja kami bertemu di suatu restoran. Kami makan malam bersama, menghabiskan malam yang sunyi. Berdua. Di tengah perbincangan kami berdua, Amanda tiba - tiba bilang ingin berpamitan. Dia bilang ingin ke acara ulang tahun temannya. Aku bersikeras untuk mengantarnya, tetapi dia menolak dengan alasan nanti merepotkanku. Apalah, padahal kan kita malah senang direpotkan oleh orang yang kita sayang.


Amanda pergi meninggalkanku sendiri di restoran itu. Namun aku diam - diam membuntutinya. Perlahan Taxi yang dinaiki amanda melaju. Hingga sampailah di sebuah klub kecil di tengah kota. Aku hanya berpikir, ”Keren sekali temannya, ulang tahun bisa menyewa satu klub seperti itu”. 


Namun sampai tengah malam tidak ada kabar darinya. Aku menunggu. Ditengah kesendirian, aku melihat ribuan bintang bintang dilangit, “Pasti emak menjadi salah satu dari mereka” pikirku. 


Setelah jam tiga pagi, dering ponselku membuatku terbangun. Pesan singkat itu bertuliskan “Maaf ya baru ngabarin, ini aku ketiduran tadi habis pesta di rumah temanku”. SEBENTAR… sepertinya ada yang aneh. B ukannya pesta ulang tahunnya di klub?. Pada titik ini, timbullah kecurigaan di otakku. Mengenai Amanda, apa tujuan dia sebenarnya, apa maksudnya, dan sebenarnya dia menganggapku apa.


HARI KELIMA


Perilaku Amanda makin mencurigakan, mana ada orang siang - siang terik gini mau jogging?. Karena masih ada kerjaan, aku tidak bisa mengikutinya. Tetapi, aku harap aku tau kebenaran dibalik perilaku Amanda ini. kerjaku tak tenang, pekerjaanku berantakan. Sungguh aku sangat penasaran apa yang dilakukan wanita ini.


Seakan semesta menjawab rasa penasaranku, sepulang dari kantor tempatku bekerja, aku mampir ke sebuah kedai kopi. Tepat agak jauh di depanku, aku melihat dua orang perempuan dan satu laki - laki sedang bercengkrama. Aku mengenali dengan baik salah satu wanita itu, dia Amanda. Dia yang bilang mau jogging tetapi malah nongkrong di kedai dengan mengenakan rok mini. 


Tak lama pesananku datang, aku masih memantau ketiga orang itu, ternyata si laki - laki itu sangat dekat dengan Amanda, mereka seperti menempel satu sama lain. Tak lama setelah itu, si perempuan yang bersama Amanda itu pergi. Tinggallah Amanda dan si laki - laki itu. Tak ada yang aneh dari tingkah laku mereka. Hingga malam pun tiba, mereka beranjak dari tempatnya dan lekas keluar dari kedai tersebut. 


HARI KEENAM 


Entah semesta memihakku atau mungkin cuma kebetulan, saat aku istirahat makan siang di restoran terdekat di kantorku, aku bertemu dengan perempuan yang bersama Amanda kemarin. Dengan gugup aku menghampirinya.

“ Halo, kak. Temannya Amanda ya?”. 

“ I- iya, kamu siapa ya?”.

“Aku pacarnya Amanda kak” jawabku. 

“ HAH?!. emang sejak kapan amanda punya pacar?”

“ Sudah lima hari yang lalu si, belum lama”

“ Wah, mangsa baru Amanda ni” Kata - kata itu membuatku kebingungan. Apa maksudnya.

“ Aku mau balik dulu, saranku sih, kamu jauhi saja Amanda. Kamu terlalu baik buat dia” ucap dia sebelum akhirnya pergi.

Sial, aku belum sempat meminta nomornya.. Beberapa langkah setelah keluar dari tempat itu, perempuan itu menungguku di samping restoran. “sini ikut aku, kita berbicara di tempat lain”.


Aku pun sampai di kedai yang suasananya remang - remang. perempuan itu bernama sella, dia menjelaskan bahwa Amanda itu suka ‘bermain - main’ dengan orang kaya, dia hanya menginginkan uangnya saja, bahkan terkadang dia langsung mencampakkan seseorang hanya karena dia mengaku kaya. 


Sekarang kau tau alasan dia mendekatiku.


HARI KETUJUH


Aku mengajak Amanda pergi ke sebuah taman. Aku menceritakan semua yang kutahu tentang dia. Aku meluapkan semua emosiku. Setelah mendengar semuanya, ia terkejut, entah terkejut karena aku mengetahuinya, atau karena hal lain. Tetapi yang membuatku terkejut adalah alasan dia terkejut sebenarnya adalah karena aku sudah berkata jahat kepadanya. Aneh sekali, padahal kan aku hanya berbicara fakta. Tak lama kemudian dia meninggalkanku. Dengan menangis, dia berlari menjauh, jauh sekali sampai aku tak mau melihatnya lagi.


Amanda, memang parasmu begitu indah, namun keindahanmu tak dapat untuk dinikmati. Keindahanmu kau tujukan untuk memikat para mangsa - mangsa yang tak berdaya. Sungguh fajar dan senja memang sama - sama indah. Tetapi mereka memiliki sebuah perbedaan. Fajar melambangkan awal sebuah hari, dan senja melambangkan akhir, perpisahan, dan kedatangan malam yang gelap. Karena itu, yang indah tak selalu baik. Wahai amanda. kamulah senja, sang pembawa malam. Pada hari - hariku.


Surabaya, 20 Februari 2024


Komentar