MENUJU KETENANGAN


Kamis, Malam hari, pukul 10, di pos ronda pinggir desa. Tio dan Doni sedang menyeruput kopi yang terlalu anyep karena kebanyakn air, Tio adalah sarjana yang baru saja lulus, dan mereka memutuskan untuk kembali ke desanya untuk sekedar berlibur sejenak guna mempersiapkan diri untuk dunia kerja. Sedangkan doni merupakan pegawai di salah satu perusahaan ternama. Dengan mengendarai supra bapak yang setiap hari digunakan ke sawah, aku menghampiri mereka. Tatapan doni kala itu sangat berbeda dari biasanya. Akupun duduk menyandar di pinggiran dibawah kentongan besar, sambil kulempar rokok sampoerna kearah mereka aku berkata ‘’rokok don’’, tanpa mengucap sepatah kata, doni mengambil rokok itu dengan tatapan kosong, wajahnya tampak lemas, pucat, dan setetes air mata pun keluar. Tio bertanya “ada masalah apa don, siapa tau kami bisa bantu”. 

Doni semakin tak kuat menahan tangisnya. Mungkin doni memiliki masalah yang berat, sampai sampai ia menangis seperti itu. Setauku doni itu anak yang kuat, sehingga membuatku berpikir “apa masalah yang dialami doni saat ini, sampai sampai dia menangis seperti ini”. Kata yang diucapkan doni waktu itu membuat semua orang yang ada disitu terkejut, kata kata yang memecah keheningan malam itu. “aku pingin mati” itu adalah kata doni setelah berhenti dari tangisnya.

Aku dan tio mencoba membuat doni bercerita. Cerita tentang secuil masalah yang di emban doni. Kata doni “setelah ayah ibuku bercerai, aku mencoba menghidupi kedua adikku. Ayahku tidak mau bertanggung jawab setelah ia pergu dengan gadis lonte kegatelan itu. Sedangkan ibuku stress karena ditinggal ayahku, ia sekarang tinggal bersama nenekku di Madiun. Sedangkan aku yang merupakan anak , tertua di keluarga, aku harus menghidupi adik adikku, aku harus membayar sekolahnya, membelikannya makan, bahkan membantu mengerjakan pr nya. Aku terpaksa berhenti kuliah agar bisa fokus untuk bekerja. Tetapi di tempatku bekerja aku selalu diperlakukan seperti kacung, disuruh suruh kesana kemari, kerjakan ini itu. Alasanku tetap bekerja adalah bayaran disitu cukup untuk menghidupi keluarga kecilku bersama adik adikku, kalau bukan karena itu, aku pasti pindah”.

Doni mendapat tekanan luar biasa saat bekerja, bullyan dari senior, tugas-tugas yang melimpah dari atasan, dan rekan kerja yang seenaknya sendiri. Banyak yagn terkejut kenapa doni bisa diterima di perusahaan itu, bisa dibilang, itu adalah berusahaan besar yang dimana pegawainya adalah sarjana sarjana yang memiliki gelar dan prestasi, sedangkan doni hanya melamar dengan ijazah SMK.

Dunia kerja memang seperti itu. Doni bisa diterima, berarti doni memiliki kemampuan, tak masalah dia lulusan SD, SMP,SMA atau sarjana, yang harus diperhatikan adalah kemampuan seseorang, bukan ijazahnya. Para senior tau kalau doni punya kemampuan, mereka takut disaingi oleh doni yang bahkan hanya lulusan SMK. Karena itu, doni mendapatkan perlakuan semena mena dari para seniornya. Memang benar seperti kata iwan fals “kesedihan hanya tontonan bagi mereka yang diperbudak jabatan”. Para senior doni adalah budak korporat yang mengejar jabatan dan kedudukan demi nafsu duniawi, mereka rela mengorbankan apapun demi mencapai itu, bahkan orang lain, aku yakin banyak orang yang menjadi korban, salah satunya adalah doni, mereka tidak peduli kondisi doni, tidak peduli bagaimana keadaan doni, yang mereka pedulikan adalah bagaimana aku bisa naik jabatan dan memperoleh kedudukan sehingga bisa kaya raya.

Tio sangat tidak terima dengan cerita doni, dia merasa itu sangat tidak adil. Bukankah dari awal dunia ini sudah tidak adil?

-------

Tak terasa berbincang bincang dengan mereka sudah 3 jam, pada pukul 1 pagi, Tio merasa sudah terlalu lama disini, “mending kita pulang saja yuk, kita istirahatkan badan. Don, kamu istirahat dulu, besok kita pikirkan bareng-bareng solusinya”. Doni merasa tidak bisa menjalani hidup sesuai dengan kemauannya. Dia menganggap ini adalah salah ayah bodohnya yang lari dari tanggung jawab, dan melimpahkan semua tanggung jawab itu kepada doni. “Kalau aku melalaikan tanggung jawabku gitu boleh ngga ya” kata doni. Aku melihat dia mengatakan itu, dan itu sangat menakutkan, dia berbicara tanpa ekspresi, dengan tatapan kosong dan bibir kering. Akupun mengajak doni pulang agar dia bisa mengistirahatkan pikirannya dari dunia omong kosong ini.

-------

Jumat, pagi hari, pukul 9. Karena semalam begadang, akupun sangat mengantuk hingga akhirnya bangun agak siang. Setelah melihat keluar jendela kamar, aku disambut oleh sinar matahari yang langsung menyilaukan mata. Terdengar suara tangisan perempuan kecil sambil berteriak “kakakkk... kakakkk”. Dan terdengar suara ribut ribut yang jarang terjadi di pagi hari. Orang-orang mulai berlari kearah sebuah rumah kecil di sudut desa. Itu adalah rumah Doni, alasan warga berlari kesana adalah karena Doni ditemukan tewas gantung diri di kamarnya, dan perempuan kecil yang menangis tersebut adalah adiknya. Aku sangat terkejut, orang yang kemarin malam bercengkrama denganku, sekarang ditemukan gantung diri dikamarnya. Beban beban yang ditanggung doni akhirnya meluap, sampai doni tak mampu lagi menampungnya. Akirnya kamu bisa istirahat ya don, kamu gak perlu memikirkan tentang kerjaan di kantormu, kamu gaperlu mikirin senior-senior busukmu itu. Jangan khawatir, aku pasti akan membatu merawat adik adikmu, kamu bisa istiahat dengan tenang disana.




Mojokerto, 2023

Komentar