BAB 1. Perempuan Tanpa Makna
Sebagian orang menganggap malam itu gelap, Sebagian orang menganggap
malam itu menakutkan. Apa sebenarnya malam itu, mengapa dia gelap. Mengap dia
menakutkan. Sebenarnya tergantung dari sisi mana kamu melihatnya. Saat masih
anak-anak, kita melihat bahwa malam itu menakutkan. Bagi pekerja, malam
merupakan waktu Dimana mereka bisa beristirahat. Bagi “Wanita malam”, malam
adalah tempat dimana mereka mencari nafkah untuk keperluan sehari-hari. Namun
berbeda dengan Ratih dan Alexa. baginya, malam merupakan waktu dimana dia bisa
merasakan ketenangan dan kebahagiaan untuk pertamakali dalam hidupnya.
Keluarga Ratih tinggal di sebuah rusun kecil di pinggiran ibukota. Tak
hanya tempatnya yang kotor, namun terdapat banyak desas desus yang “kotor”
mengenai tempat ini. Banyak gossip dari warga sekitar yang mengatakan bahwa
rusun tersebut merupakan tempat bandar, pusat perjudian, tempat prostitusi,
markas komplotan perampok, dan masih banyak lagi.
Stigma negatif tersebut sudah melekat pada rusun itu. Banyak keluarga
yang “baik-baik” memutuskan untuk pergi dari rusun tersebut dikarenakan
lingkungan yang tidak nyaman. Karena stigma negative tersebut pula lah yang
membuat warga rusun kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Yang pada
akhirnya mereka melakukan Tindakan kriminal seperti merampok, mengedarkan
narkoba dan lain sebagainya hanya untuk bertahan hidup melawan kerasnya dunia.
Ronald, atau orang di rusun itu biasa menyebutnya “komodor”. Komodor
adalah orang kaya mantan pejabat negara. Dibalik kekayaannya tersebut, ternyata
komodor dulunya merupakan pejabat yang korup dan keji. Komodor menjadikan rusun
tersebut sebagai markas dan pusat operasi dari bisnis-bisnis gelapnya. Dari
situlah panggilan “komodor” tercipta, karena dia seperti jenderal yang
membawahi para penghuni rusun.
Sepuluh tahun yang lalu, komodor tidak sengaja menemukan tempat yang tak
beraturan seperti ini melalui ketidak sengajaan. Saat itu komodor sedang ke
tempat prostitusi, dan disana komodor bertemu dengan Ratih, seorang mahasiswa
yang menjual dirinya demi gengsi di kota orang. Dari pertemuan itu, komodor
menyukai Ratih sejak pertama melihatnya. Sejak saat itu, setiap hari setelah
pulang dinas, komodor selalu pergi ke tempat prostitusi itu hanya untuk menemui
Ratih dan menjadi “pelanggan” tetapnya Ratih.
Sebulan berlalu sejak pertemuan pertama komodor dan Ratih. Hubungan
mereka semakin dekat, tak jarang juga Ratih mengajak komodor ke tempatnya di
rusun itu. Semenjak melihat ingkungan di rusun itu, komodor terpikir sesatu
yang diluar akal sehat. Komodor menjadikan tempat itu sebagai pusat operasi
bisnis gelap miliknya dengan mempekerjakan warga yang tinggal disana. Karena
hal itu, komodor dapat setiap hari bertemu dengan Ratih.
Hingga suatu Ketika, hubungan gelap komodor dan Ratih terungkap pada
jagat media. Dengan gampang komodor menyuap para media untuk tidak menyebarkan
berita tersebut. Tapi masalah utamanya ada pada istri sah komodor. Istrinya
sangat tidak terima dengan Tindakan komodor. Dengan tanpa sepengetahuan
komodor, istrinya pergi ke rusun itu dan mendatangi Ratih. Istri komodor
menyuruh Ratih untuk meniggalkan rusun dan pergi sejauh mungkin. “Didalam
amplop ini, terdapat uang duapuluh juta. Ambil uang ini dan pergi sejauh
mungkin. Jangan pernah memperlihatkan batang hidungmu pada suamiku atau padaku
lagi. PAHAM?” ucapan istri komodor sangat mengancam Ratih.
“Tetapi saya
tidak bisa” Jawab ratih dengan menangis.
“Apa maksudmu
tidak bisa, uang segini kurang?”
“Saya tidak bisa
pergi karena saya sedang mengandung”
Istri komodor
terlihat sangat marah, lalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan apa-apa.
Keesokan paginya, terdapat surat
kabar yang pada halaman depannya termuat kabar “Seorang pejabat terpergok
menghamili seorang pelacur”. Tak lama terdengar suara pintu yang terbuka sangat
keras. Tak lain dan tak bukan ternyata komodor datang ke tempat Ratih.
“SEJAK KAPAN KAU
MENGANDUNG?” Tanya komodor dengan mebentak.
“Kemungkinan
sudah tiga minggu” jawabnya.
“Awas saja jika
karirku hancur gara-gara kau, jika itu terjadi, kau akan rasakan akibatnya”
ancam komodor ke Ratih.
Komodor mengunci ratih di
rusunnya, tanpa apa-apa. Setiap hari hanya ada nasi dan air minum yang dilempar
melalui lubang ventilasi. Hal tersebut berlalu hingga bayi dalam kandungan
tersebut mau keluar. Saat itu, terdapat orang mengenakan pakaian misterius yang
masuk ke rusun Ratih dan membantu persalinan. Lahirlah seorang anak Perempuan
yang memiliki wajah cantik, mirim dengan ibunya. Anak itu kemudian diberi nama
Alexa. Sejak saat itu komodor tidak pernah datang lagi dan Ratih Kembali
menjadi pelacur untuk mencukupi kehidupan sehari-hari.
Saat ini Alexa sudah menginjak
usia 8 tahun. Tiap malam dia bertanya kepada ibunya, “Bu mengapa teman ibu tiap
hari kesini, beda-beda lagi”. Ibunya hanya bisa tersenyum lalu masuk ke kamar
dengan seorang laki-laki itu. Alexa tidur di sofa, terkadang tidurnya tidak
nyenyak lantaran terbangun karena mendengar ibunya menjerit seperti kesakitan.
Namun Alexa tau, ibunyya selalu menjerit seperti itu, dan beberapa saat
kemudian ibunya pasti diam.
Namun hari itu terasa berbeda,
mengapa teman ibu datang saat pagi hari. Sembari menunggu Ratih tterbangun,
laki-laki itu bermain dengan Alexa. Betapa terkejutnya Ratih saat mengetahui
kalau laki-laki itu adalah komodor. Sesaat setelah menunjukkan dirinya, sang
komodor langsung berlari dan menghantam wajah Ratih menggunakan botol miras
yang membuat kepala Ratih mengucurkan darah.
“Sudah kubilang
kau akan menerima akibatnya, kini jabatanku telah dicabut gara-gara anak
brengsekmu itu” Ucap komodor sambil menarik rambut Ratih lalu menendang Alexa.
Mereka berdua ketakutan. Tak dapat berbuat apa-apa. Setelah berteriak, komodor
membenturkan kepala Ratih ke meja lalu keluar dan mengunci pintu dari luar
meninggalkan Ratih dan Alexa terkuncu di rusun itu.
Alexa bertanya kepada ibunya,
siapa laki-laki itu, kenapa teman ibu yang itu memukuli ibu. Ratih menjelaskan
semuanya kepada Alexa. Kepada anak berusia 8 tahun yang belum mengerti apa-apa.
Alexa tiba-tiba menangis. Mengetahui bahwa laki-laki yang memukuli ibunya dan
menendangnya adalah ayahnya.
Ayahnya setiap hari datang dengan
wajah yang tidak enak. Meneriaki mereka. Memukul. Mendendang. Pagi, siang, sore
hanya datang untuk memukuli mereka berdua, Kadang dia mengangkat Ratih dan
melemparnya ke temboh. Membenturkan kepalanya ke lantai. Bahkan tidak jarang
dia membawa botol kaca bekas miras yang dia minum untuk dipecahkan di kepala
Ratih. Dia meneriaki Alexa, mengolok Alexa dengan menyebutnya sebagai anak
haram pelacur. Mencekiknya. Dan menampar wajah anak sekecil itu. Tak jarang
juga Alxa ditendang hingga pingsan. Hanya malam hari yang membuat mereka bisa
Bahagia. Menghabiskan waktu berdua. Ratih menceritakan dunia luar pada Alexa.
Mengajarinya baca tulis, mengajarinya pengetauan dasar. Ratih tetap berusaha
menjadi sesosok “ibu” bagi putrinya. Mereka berpelukan. Menyantap kudapan
ringan. Bahkan tak jarang mereka menata ruangan yang berantakan itu
Bersama-sama. Dengan senyuman manisnya. Tanpa ada komodor. Hanya mereka, Ratih,
Alexa, dan sang malam.
Setelah menerima perlakuan
seperti itu, Ratih tak sanggup berteriak pun melawannya. Ratih lelah, setiap
penyiksaan membuat tubuhnya mati rasa. Ratih tak pernah menginginkan kehidupan
seperti ini, Ratih ingin menyangkal semuanya, semuanya, termasuk keberadaan
putrinya. ingin rasanya ia membuang semua, tapi tidak, ratih masih ingin
bertahan meski menyakitkan, demi anaknya, demi Alexa.
Kejadian itu berlangsung sangat
lama. Hari-harinya terasa seperti neraka. Baik Ratih maupun Alexa. Mereka
kehilangan tujuan untuk hidup. Hari berlalu begitu cepat. Ratih menatap wajah
Alexa. Wajahnya sudah sangat berbeda. Menjadi lebih remaja. Saking cepatnya
hari-hari mereka. Alexa sudah berusia 13 tahun. Semakin sering Ratih menatap
wajah Alexa, Ratih semakin menemukan sosok Komodor padanya. Mau bagaimanalagi,
karena Alexa adalah anak komodor. Perlahan-lahan. Alexa mulai kehilangan kasih
sayang dari orang tuanya, dari satu-satunya orang yang menyayanginga. Dari
satu-satunya orang yang menganggapnya manusia.
Pada hari itu. Saat komodor datang dengan membawa sebuah botol miras
bertulisakn “whisky” yang langsung dilemparkan ke lantai. Botol tersebur pecah
berantakan. Pecahan-pecahan botol tersebut diambil oleh komodor. Dia meraih
tangan Ratih, mengikatnya, dan menggantungnya di atap-atap. Pecahan botol itu
memiliki ujung yang tajam. Komodor mengarahkannya ke lengan kanan Ratih.
Menusuknya. Dan perlahan menggesernya kebawah sampai siku. Darah bercucuran.
Mengenai wajah Alexa yang hanya bisa duduk dengan ketakutan. Alexa berteriak.
“BERISIK!!!” dan komodor menendangnya. Lalu dia pergi. Ratih, dengan wajah
kesakitan bercampur amarah mulai memandang kea rah Alexa. Menunjukkan muka-muka
kebencian. Dan membenci Alexa seolah Alexa adalah komodor.
Hari berikutnya. Komodor Kembali ke rusun itu. Kali ini membawa sebotol
anggur. Di botolnya tertuliskan “Vodka”, yang merupakan minuman ber alcohol
hasil dari fermentasi biji-bijian. Ratih masih terbayang dengan yang dilakukan
komodor kemarin, akankah terulang. Komodor menghampiri Ratih. Memegang
rahangnya. Lalu memasukkan ujung botol vodka ke mulut Ratih. “Habiskan” kata
komodor sambil mencekoki vodka ke mulutnya. Saat air miras itu perlahan masuk
ke mulut Ratih, komodor dengan perlahan mendorong botol itu ke dalam mulutnya.
Hingga tak tersisa isi dari botol tersebut. Sepertinya rahangnya sedikit patah.
Dan komodor pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah menghabiskan sebotol vodka, Ratih tidak kuat. Mukanya pucat.
Terasa ingin muntah. Alexa bertanya “Ibu tidak apa-apa?”. Makin Ratih melihat
wajah Alexa, makin pula rasa mual itu muncul. Ratih sudah memandang Alexa
sebagai salinan komodor. Ratih memegang kepala putrinya itu. Lalu perlahan
membuka mulutnya. Dan… Ratih muntah tepat di wajah Alexa. Ratih sengaja
melakukan itu karena wajah Alexa semakin mengingatkannya kepada komodor. Alexa
hanya tersenyum. Berusaha menghibur ibunya dengan mengatakan bahwa dia
baik-baik saja.
Hubungan Alexa dan ibunya perlahan mulai pudar. Sedikit demi sedikit.
Perlahan, seperti permukaan tanah yang terkikis oleh air. Jarang ada kontak
diantara mereka. Didalam ruangan itu. Yang awalnya berisi sebuah keluarga kecil
yang hangat, menjadi dua orang yang tampak asing, tidak mengenal satu sama
lain. Bahkan sang malam yang biasanya memberikan kehangatan sekarang berubah
menjadi malam yang dingin nan gelap.
Keesokan harinya. Komodor datang dengan membawa karung besar. Dia memukul
kepala Ratih hingga lemas. Lalu mengikat dan memasukkannya kedalam karung.
Kemudian karung tersebut digantung, dijadikan seolah-olah menjadi samsak. Ratih dipukul. Dengan tangan, dengan balok
kayu, bahkan ditendang berkali-kali. Seperti
biasa, komodor langsung pergi begitu saja. Meninggalkan Ratih. Tergantung.
Didalam karung. Alexa mencari kursi, mencoba meraih karung yang berisi ibunya
itu. Dia melubangi bagian bawah karung itu, sehingga ibunya bisa keluar.
Setelah itu, ibunya hanya menatap dingin ke Alexa yang perlahan menjadi tatapan
kebencian. Ratih lalu mengambil karung yang masih tergantung itu. Menjahitnya,
sehingga menutup lubang yang telah dibuat Alexa agar ia bisa keluar. Rajutan
demi rajutan ia buat, tak terasa lubang pun tetutup. Ratih perlahan mendekati
Alexa dengan tatapan mata kosong, seolah ia tidak melihat sesuatu yang
didepannya. Ratih menangkap tangan Alexa, mengikatnya, dan memasukkannya
kedalam karung yang telah ia perbaiki itu. Alexa berteriak memanngil ibunya
dengan tetesan air mata yang bergelimang itu. Karung yang berisi anak kecil
itupun digantung. Ratih mulai memukulinya, pukulannya perlahan semakin kencang,
Ratih mulai menikmatinya. “Ibuuu, tolong hentikan ibuuu, ini aku Alexa”.
Mendengar teriakan itu bukannya berhenti, Ratih malam makin menikmatinya, pukulan
demi pukulan dilayangkan. Ratih melihat kearah lantai, sebuah balok kayu yang
terbalut darahnya. Perlahan tangannya meraih kayu itu. Ratih melihatnya dengan
senyuman, senyuman yang menyeramkan. Lalu Ratih mengayunkan kayu itu dengan
keras, hingga menghantam karung yang berisi Alexa. Alexa menjerit, tak kuasa
menahan rasa sakit.
Pagi hari, komodor Kembali ke tempat itu, ia melihat Ratih tergeletak di
lantai sambil memegang balok kayu yang biasa ia gunakan. Alexa mendengar ada
seseorang yang masuk, ia berteriak minta tolong. Mendengar teriakan itu,
komodor memotong tali yang menggantung karung itu, dan melemparkannya ke pojok
ruangan. Komodor melihat kearah Ratih, menyobek celananya pada bagian paha.
Lalu menusukkan pisau kecil ke paha Ratih. Ratih terbangun oleh rasa sakit yang
luar biasa. Komodor kemudian mencekik ratih dan membenturkannya ke dinding,
Lalu pergi begitu saja. Tak lupa komodor mengunci pintu itu, agar kedua orang
didalamnya tidak kabur keluar. Itu selalu dilakukan komodor setelah menyiksa
mereka berdua.
Malam harinya Ratih sengaja begadang. Menunnggu Aleza tidur dengan
nyenyak. Denting jarum jam berbunyi, detik demi detik. Menit demi menit. Hingga
Ratih menoleh kearah Alexa yang terbaring tertidur nyenyak. Ratih mengambil
sebuah pisau kecil. Mengendap menuju Alexa. Ia mengangkat pisau kecil itu,
membidik tepat ke paha Alexa, lalu menancapkannya dengan keras. Pisau itu
tertancap sangat dalam. Hingga Alexa terbangun karena rasa sakit yang luat
biasa itu. Lalu ratih mencoba meraih Alexa. Alexa hanya bisa lari ke sudut
ruangan. Setelah beberapa saat berlari kesana kemari, akhirnya Ratih menangkap
Alexa. Ratih mencekik Alexa, lalu membenturkannya ke dinding. Ratih melakukan
apa yang dilakukan komodor padanya, lalu ia tersenyum gembira. Entah mengapa
muncul rasa puas didalam dirinya.
Hari-hari Alexa semakin mirip neraka. Setelah kehilangan sosok seorang
yang menganggapnya manusia, sekarang sosok itu melakukan penyiksaan kepadanya.
Setiap hari, Alexa selalu menerima siksaan yang sama seperti komodor menyiksa
Ratih. Ia dipukul, ditendang, dibenturkan, hingga ditusuk oleh Ratih. Rasa
saying dihatinya perlahan memudar. Ia mulai menyadari kekosongan dihatinya. Tak
ada harapan untuk hidup, tak ada tujuan, dan tak ada hasrat untuk hidup sama
sekali. Bahkan jika dia mati, dia akan merasa lebih Bahagia. Namun ditengah
keputus asaan itu, Alexa mempunyai tekad untuk teus hidup. Tekad untuk membalas
dendam atas kebencian yang dia alami. Untuk itu dia selalu menahan rasa sakit
yang diterimanya, dia bertahan, menunggu roda takdir berputar ke arahnya. Dia
hidup, untuk balas dendam.
Setelah semua rasa sakit yang telah dilalui Ratih dan Alexa, Hari itu
komodor datang lagi. Kali ini membawa botol kecil berwarna putih. Botol kecil
itu berisi cairan pemutih pakaian. Entah apa yang akan dilakukannya kali ini.
Apakah mencekoki Ratih, ataukah menyiram cairan itu ke Ratih. Komodor perlahan
membuka tutup botol itu. Ratih memasang wajah pasrah menerima apapun yang
dilakukan komodor. Komodor menendang Ratih hingga tersungkur. Lalu ia menjambak
rambut ratih dan menuangkan cairan pemutih itu tepat di matanya. Ratih menjerit
kesakitan, matanya perlahan meleleh sambil mengeluarkan asap. Melihat hal itu,
Alexa hanya tertawa di pojokan, dia cekikikan seolah melihat ppertunjukan yang
lucu. Melihat hal itu, Ratih tidak terima, dia kemudian mengambil balok kayu
lalu berteriak, “Anak setan, karena kamu, aku jadi mengalami semua ini.
Seandainya kamu tidak terlahir di dunia ini, mungkin hidupku tak akan se
mengerikan ini” sambil mengambil ancang-ancang akan memukul dengan kayu itu. Sesaat
sebelum balok itu mengenai Alexa, pergerakan Ratih terhenti, tubuhnya dingin.
Dia merasa ada sesuatu yang mengalir di badannya. Sebuah pisau menancap di
tenggorokan Ratih. Komodor menancapkan pisau itu karena ia merasa Ratih sudah
kelewatan. Pisau itu membuatnya tak bisa melakukan apa-apa lagi. Disaat
akhir-akhir nafasnya. Ratih sangat ingin memeluk Alexa. Dia mengucapkan kalimat
terakhirnya “Alexa, ini semua salah ibu. Maafkan ibu karena melahirkanmu di
dunia seperti ini. Ibu mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu. Alexa”. Ratih
pun tergeletak tak bernyawa di lantai. Mendengar ucapan ibunya itu, rasa benci
Alexa kepada ibunya pun memudar, ia perlahan meneteskan air mata. Air mata yang
tulus dan penuh cinta kepada ibunya. Alexa menyadari, semua ini bukan salahnya,
taupun salah ibunya. Semua itu salah bajingan itu, bajingan yang menusukkan
pisau ke leher ibunya, bajingan yang menyiksa mereka setiap hari. Bajingan yang
pantas mati.
Air mata Alexa perlahan berhenti, mukanya berubah menunjukkan kebencian,
sambil menatap tajam kearah komodor yang hanya berdiri setelah apa yang telah
dilakukannya. Tangan komodor bersimbah darah, ia perlahan menarik saputangan
yang ada di sakunya. Pada saat itulah Alexa mencabut pisau dari leher ibunya.
Alexa berlari menuju komodor, lalu menusukkan pisau itu tepat kea rah
kelaminnya. Komodor kesakitan lalu jatuh tersungkur. Tanpa basa-basi Alexa
menusukkan pisau itu kearah mata komodor. Pisau itu menancap, menembus otak
komodor. Dan riwayat hidup Ronald sang komodor pun berakhir.
Begitu banyak kejadian yang dialami Alexa. Ia hanya termenung. Sementara
hari sudah mulai gelap. Dan hujan pun turun. Alexa melihat kearah pintu,
membayangkan dunia dibalik pintu itu, dunia yang ibunya ceritakan saat ia masih
kecil. Alexa perlahan membuka pintu itu lalu melangkah keluar. Ia melihat
sekeliling dan menyadari bahwa tidak ada orang yang tinggal di rusun itu
kecuali mereka. Pantas saja bantuan tidak pernah datang, ternyata rusun itu
sudah lama ditinggalkan. Alexa berari menembus hujan. Tanpa tau apa-apa tentang
dunia luar. Ia hanya berlari menuju kemana kegelapan malam ini menuntunnya,
Malam itu, menjadi malam paling sedih dan Bahagia oleh Alexa.
***
Komentar
Posting Komentar