KOTA BESAR MEMBUAT KECIL, KOTA KECIL MEMBESARKANKU

 

Malam itu adalah awal dimulainya musim hujan. hujan pertama yang jatuh membasahi jalanan kota. Suara rintik air hujan ditambah suara klakson kenadaraan menambah kebisingan di malam itu.

Aku adalah seorang mahasiswa semester 5. Aku berasal dari kota kecil di ujung provinsi jawa timur. Aku berkuliah di salah satu kota paling maju di Indonesia. Surabaya. Tak sedikit orang mengaitkan Surabaya dengan kemewahan. Mall mall mewah. Kafe kafe bertema modern. Tetapi, untuk anak perantauan, jika tidak berasal dari keluarga tajir melintir, maka tempat-tempat seperti itu hanya bisa dikunjungi di awal bulan.

Didekat kosku, tepatnya limapuluh meter setelah perempatan. Terpaut sosok pria paruh baya yang setiap hari tanpa lelah mendorong gerobak mie ayam. Beliau adalah Pak solikin. Beliau adalah penjual mie ayam langgananku. Rasanya biasa saja, tetapi dengan harga sepuluh ribu dengan porsi sebanyak itu menjadikan  mie ayam pak solikin sebai pilihan utamaku untuk meredakan rasa lapar. Memang secara tempat sangat kurang. Beliau hanya berjualan dipinggiran jalan dengan gerobak dorong berwarna biru tua. Yang membuatku betah adalah, beliau adalah tipikal penjual yang sangat ramah. Apapun obrolannya, akan selalu nyambung jika dengan pak solikin. Selama lebih dari 2 tahun. Aku berlangganan di mie ayam pak solikin. Tak jarang juga pak solikin menjadi tempat mengadu keluh kesahku tentang perkuliahan.

 

-----

 

Sampai tiba akhirnya aku menginjak semester 6. Aku diterima magang di salah satu Perusahaan swasta di luar kota Surabaya. Karena dikuar kota Surabaya, maka aku harus pindah dari kos lamaku. Mencari tempat baru yang berjarak tidak terlalu jauh dari Perusahaan tempatku magang.

Aneh rasanya meninggalkan kota Surabaya. Kota tempatku menulis kenangan. Baik burukku selama lima smester tertulis di Surabaya. Mungkin sedikit lebay. Kan magang Cuma satu semester. Tetapi benar itu yang kurasakan. Walaupun sebentar, sulit rasanya meninggalkan sesuatu yang menurut kita berharga, sesuatu yang membuat kita nyaman, sesuatu yang bisa kita sebut rumah. Selama magang, aku merasakan suasana baru, sensasi baru, akivitas baru, dan tempat baru. Memang rasanya berbeda dengan di Surabaya. Tetapi suasana dan tempat baru selalu memiliki sebuah cerita sendiri. Hiruk pikuk sebuah kota dengan kegiatan masyarakatnya yang beraneka ragam.

Sedari kecil aku memang sering berpindah pindah tempat tinggal. Entah karena kerjaan orang tua, atau karena masalah lain. Sehingga saat aku besar. Aku merasakan selalu ada hal baru saat datang ke tempat baru. Perasaan itulah yang bisa membuatku berkata “aku ingin menjelajah dan berkeliling dunia”. Memang terkesan berlebihan, tetapi tujuanku setidaknya dapat keliling Indonesia terlebih dahulu. Entah perasaan apa yang mendorongku. Tetapi, pasti seru jika selalu mendatangi tempat – tempat baru, tempat yang sebelumnya sangat asing bagi kita. Lama kelamaan membuat kita nyaman. Meberikan cerita cerita baru di hidup kita. Menambah rangkaian peristiwa yang terjadi di hidup kita.

 

-----

 

Selang beberapa bulan, masa magangku pun berakhir. Aku akan Kembali ke kota bising itu. Kota bising dengan sejuta kenangan yang telah ku ukir disana. Kota bising dengan aneka ragam penduduknya. Kota bising Dimana aku mencari jati diriku.

Nampaknya. Kos lamaku sedang penuh. Sehingga aku mencari kos baru yang berjarak agak jauh dari kampusku. “Ohh kuiahku kapan selesainya” ucapku.

 

-----

 

Selang beberapa bulan kemudian, aku lulus dengan predikat cumlaude. Tak sia – sia usaha yang kulakukan selama ini. Suasana wisuda yang meriah. Foto Bersama keluarga. Serta banyak peristiwa lain yang dilakukan para wisudawan. Mungkin kegiatan yang dilakukan berbeda. Tetapi terdapat persamaan dari itu semua. Peristiwa itu Merupakan peristiwa yang sangat menggembirakan bagi kebanyakan orang.

Euphoria pesta kelulusan masih terbawa sampai seminggu kedepan. Sampai kita seringkali lupa bahwa setelah euphoria itu, akan ada kesendirian yang menanti. Kita tak kan  setiap hari Bersama. Kita tak kan bisa mengeluh soal tugas Bersama sama. Kita tak bisa mengerjakan tugas Bersama sama sampai larut malam. Suasana perkuliahan yang tak kan ada lagi. Ucapan “Ohh kuiahku kapan selesainya” menjadi penyesalan. Semua berharap kebersamaan ini takkan berakhir. Tetapi hidup memaksa kita untuk terus berjalan. “Walaupun kita sekarang berpisah, namun ingatlah saat saat kebersamaan kita, kawanku”.

 

-----

 

Selang beberapa tahun berlalu. Aku dan teman-temanku mengadakan reuni. Banyak sekali yang datang. “ternyata bukan hanya aku yang rindu masa perkuliahan ya” ucapku dalam hati. Kami bercerita Panjang lebar. Nina temanku, menceritakan susahnya jadi ibu rumah tangga. Nando yang sekarang mewarisi Perusahaan ayahnya, mengeluh karena bebannya sangat berat. Arya mengeluh karena bos-nya sangat pelit. Dan berbagai cerita konyol nan seru terucap dari mulut teman temanku. 

Tiba giliranku bercerita. Aku menceritakan tentang mie ayam favoritku saat masih berkuliah. Ya benar. Aku menceritakan tentang mie ayam pak solikin. Ditengah ceritaku, dini menyahut ucapanku. “loh, para penjual di daerah sana semuanya diusir loh. Katanya area itu mau dibuat taman gitu. Jadi para pedagang yang sudah bertahun – tahun jualan disitu, akhirnya harus angkat kaki dari situ”. Ucapan dini tidak diragukan lagi, karena Dini adalah orang Surabaya asli yang tempat tinggalnya dekat area kampus.

Sdetik setelah ucapan Dini, terlintas pertanyaan di kepalaku. Bagaimana Nasib pak solikin?. Apakah beliau baik-baik saja?. Apakah sekarang beliau masih berjualan?. Dimana tempat pak solikin berjualan sekarang?. Puluhan pertanyaan menghujani pikiranku.

 

-----

 

Beberapa hari kemudian. Aku berinisiatif untuk mencari pak solikin. Aku bergegas ke Surabaya dengan menaiki bus kota. Sesaat setelah memasuki kota Surabaya. Terlintas kenangan – kenangan saat aku sedang di kota ini. Kepalaku penuh dengan memori – memori yang tak terlupakan itu.

Beberapa waktu berlalu. Aku tiba di sebuah taman di pinggiran kota Surabaya. Ya, tepat di depanku. Di tempat tumbunya bunga kamboja putih itu. Adalah tempat pak solikin berjualan dahulu.

Beberapa meter di Seberang jalan. Terdapat wajah yang tak asing. Namanya bu sri. Istri dari pemilik bengkel di samping area taman. “Bu sri” aku memanggil bu sri dengan kencang. “masih ingat aku ndak?, aku yang dulu sering nongkrong di begkel bu sri sambil makan mie ayam pak solikin”. “wohhh cah bagus to” jawab bu sri dengan logat surabayanya.

“jadi begini bu sri, aku datang kesini karena mau bertemu pak solikin, katanya beliau diusir dari area sini, karena mau dijadikan taman”.

“iyo nak, wis suwi ket pak solikin gk dodol nde kene neh” jawab bu Sri.

“terus pak solikinnya gimana bu, sekarang gimana keadaannya?” tanyaku.

Bu Sri menjelaskan bahwa sejak taman ini dibuat, banyak pedagang kecil yang kehilangan tempat untuk melapak. Banyak juga diantara mereka yang tidak bisa jualan lagi dikarenakan tidak memiliki tempat. Sedangkan biaya untuk sewa ruko sangat mahal. Selepas bercerita, bu sri menunjuk gang kecil. Itu adalah jalan masuk untuk ke rumah pak solikin.

Malam – malam gelap aku menyusuri sebuah gang sendirian. Gang kecil yang hanya muat dilewati satu sepeda motor. Jalannya tanah berkerikil. Sehingga sulit jika digunakan untuk berjalan kaki. Kiri kanan terlihat rumah rumah kecil dengan kondisi seadanya. Aku heran. Kenapa tempat seperti ini penduduknya sangat padat. “ternyata di kota sebesar Surabaya juga terdapat tempat seperti ini ya” pikirku. Aku bertahun tahun tinggal di Surabaya. Namun baru kali ini aku mengetahui ada tempat seperti ini di kota besar ini.

Setelah berjalan cukup jauh, aku  melihat gerobak biru tua. Gerobak itu diterangi oleh satu buah lampu kecil. Gerobak itu bertuliskan “Mie Ayam Cak Solikin”. Nah. Akhirnya ketemu juga rumah pak solikin.

“assalamualaikum pakkk” teriakku di depan rumah pak solikin.

“waalaikumsalam…” jawab pak solikin.

“loh arek iki, wis gede ae rek” guyon pak solikin dengan wajah tersenyum.

            Aku bersyukur setelah melihat pak solikin baik-baik saja. Pak solikin menjelaskan bahwa Beliau tinggal berdua dengan istrinya, dan sekarang istrinya sedang sakit sakitan. Anaknya Cuma satu dan entah pergi kemana.

“sejak dibangun taman itu, aku sekarang Cuma bisa berjualan di depan rumah ini. Pembelinya paling ya Cuma tetangga. Ya gimana orang mau beli, wong akses rene ae angel. Hahahahaha…” ucap pak solikin.

Tawanya terhenti. “ngapain juga orang susah-susah masuk gang kecil demi mie ayam gak enak ini. Walaupun enak, oragn pun bakal mikir untuk kesini. Liat aja, gangnya kecil. Gelap. Tak ada lampu jalan. Hanya mengandalkan lampu milik rumah warga”.

            Akupun menyadari, kadang Langkah kecil yang kita ambil akan berimbas kepada seseorang. Entah itu besar atau kecil.

            Akupun memesan Mie Ayam pak solikin. Aku harap ini bukan yang terakhir kalinya. Rasanya sama. Sama persis seperti jamanku kuliah dulu. Aku heran, kenapa pak solikin bisa se konsisten ini.

           

            -----

 

            Waktu menunjukkan pukul Sembilan malam. Aku harus bergegas pulang, aku berpamitan dengan pak solikin. Pak solikin berterimaksih atas kunjunganku. Beliau berharap aku dapat mengunjunginya lagi kapan – kapan.

            Aku pulang dengan menaiki bus juga. Aku duduk tepat di sebelah jendela. Aku menyandar ke jendela dan merenungi Nasib pak solikin. Aku tidak bisa membantu apapun untuk pak solikin. Aku muali meneteskan air mata. Aku menangis di dalam bis.





Surabaya,  2023

Komentar